Jumat, 12 November 2010

CINTA TIADA YANG TAU KAU DIMANA Oleh : Ranni Katto


Sesaat ku merenung di sini, di tepi sungai , tempat pertama kali aku bertemu dengannya, tepat berada di belakang sekolah kami SMAN 2 Barabai. Dengan penuh kerinduan aku memeluk sebatang pohon manggis yang tumbuh di tepi sungai itu, “Wouy !! gila kah ikam, nangapa puhun hibak kararangga di ragap, kada tapi pintar jua nanginih !!” Eidil temanku sekampung mengingatkan aku sambil mengusungkan alat pancingannya ke arahku.
“Aduh ! aduh !! bungul nyawa neh !! takajut kajut nda, jaka baassalamu’alaikum bungul ai ada jua !” balasku, “kam tuh nang bungul Ran ai, kada maelihatkah puhun nangituh hibak lawan kararangga, iya am jar urang tuh, mata lain hati lain !” ujar Eidil
“kajajauhan kam tuh maunjun sampai ka sini sini, jaka di paparak banua situ ha ! tandasku. “bach, kada tapi baiwak lagi nu kita tuh ran ai….” Sahutnya sambil berjalan ke arahku.
“apa nyawa neh mengganggu org za banostalgia di sini ! ujarku.
Eidil itu temen ngeband aku, selalu ingin tahu teruz masalah orang lain.  Kadang kadang membuat aku jengkel juga melihatnya.
“nangapang garang teh jadi taungut di sini manyaurangan, bakisah am lawan kawan kaluku ai kawan kawa mambantui  ?” jar Eidil.
Aku mulai bercerita kenapa aku termenung di tempat itu pada sahabatku tersebut.
Dulu saat aku masih sekolah di sini, aku pernah berpacaran dengan seorang gadis, ya tepatnya saat itu di tempat ini sedang diadakan kegitan berkemah PRAMUKA, saat itu aku rajin ikut kegiatan-kegiatan tersebut, dari pertama kali aku ikut PRAMUKA ada seorang kakak senior yg selalu memperhatikan aku tanpa sepengetahuanku, ternyata dia sudah lama naksir denganku.
Sebagai junior aku harus patuh dengan atasan, di luar kegiatan itu kami semua sama saja, Di tempat itulah aku sering kena hukuman dari dia, kenapa dia begitu sentiment dengan aku padahal dengan anak yang lain dia tidak sperti itu, sedikit saja aku membuat kesalahan, selalu saja yang menghukum aku dia, di suruh pus up lah, merangkak lah, yang paling sadis ya itu aku disuruh terjun ke sungai itu, padahal  arus sungainya sangat deras , terjunnya di sini eh sampainya dua puluh meter di seberang, ha sadis pokoknya.
Tapi kenapa dia tembak aku setelah apa yang dia lakukan ke aku hari-hari sebelumnya,”tahu kada ikam kanapa aku kaya itu lawan ikam, Ran ? kata dia. “Kada tahu aku, kayapa aku handak menerima ikam, ikam liwar kajamnya lawan aku, Nar ai !” sahutku
Sebelumnya Narti menyuruh temannya untuk menyampaikan pesan kepadaku agar aku menemuinya saat jam istirahat di perpustakaan, nah di situlah dia menyatakan perasaannya kepadaku selama ini.
“Aku tuh katuju lawan ikam, kalo melihat ikam takurihing tuh maniiiis banar parasaanku, aku tuh maajab ikam banar handak mentes banar ai, ikam tuh tahan kada di kerjain kaya itu ! ih sakalinya ikam tuh beda dari yang lain tegar, sabar banar urangnya, cwo kaya itu nang aku cari selama ini” papar si Narti.
“Nah, seandainya lah, aku nih kada penahanan di ajab kayapa ikam masih maul ah lwn aku ?”
“hehehehe, kam nih… tahu ah!”
“han iya kalu kaya itu lah ?”
“to the point aja nah, kam tuh mau kada jadi pacarku, mun kada hakun aku kada mamaksa ju !”
“ikam bujur-bujur lah dahulu ?”
“mun kam bujur-bujur ku hakun ai, btw kada supan lah kam yang menembak aku duluan’ kaka Pembina! Jawabku, sambil bercanda.
Akhirnya aku menerimanya jadi pacarku, hari demi hari kami lewati bersama, sebelumnya Dia yang kejam padaku, kini jadi sangat baik padaku, membuat teman-temanku hiri saja.
Setiap hari kami selalu pulang paling akhir, mojok dlu sebelum pulang ke rumah, sampai-sampai ketahuan para guru, dan akhir seantero sekolah jadi tau.
Tapi kenapa setelah hubungan kami berjalan satu tahun, yang tadinya baik-baik saja kini berubah menyakitkan bagiku, dia yang sangat aku sayangi, aku cintai, selingkuh di depan mataku, aku tidak berani cari masalah dengan pacarnya yang baru itu, secara dia seorang tentara sedangkan aku hanya seorang siswa SMA, nyaliku ciut melihat perawakannya yang kekar.
Aku hanya diam meratapi nasib, kenapa tak berpihak kepadaku, aku jadi frustasi dan mulai mencari cara agar aku bias melupakannya.
Setelah aku kelas tiga SMA, kabarnya dia menikah dngan pacarnya itu. Ah sudahlah, aku sudah melupakannya, kini aku dapat pacar baru lagi, sekelas dengan aku, kelas tiga jurusan Bahasa.
Hubunganku dengan pacarku yang baru ini brjalan baik-baik saja, tidak ada masalah.
Tapi kenapa kisah itu terulang lagi padaku, setelah aku lulus dari sekolah itu, aku terkejut setelah mendengar  Nur kawin.
Seperti jatuh ketiban tangga, nasibku sial seperti ini, oh Tuhan, kapan kah kau berikan aku cinta sejati, yang mencintaiku apa adanya, dan selalu setia kepadaku sampai mati.
Kini aku sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya cinta, aku selalu dibuatnya menderita, persetan dengan wanita, aku harus membalasnya. Julukan playboy sempat melekat pada diriku selepas aku menjadi alumni SMAN 2 Barabai,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar