PERIBAHASA DALAM BAHASA BANJAR
Oleh : Arsyad Indradi
Gabungan beberapa kata yang menjalin suatu pengertian yang bermuatan nilai – nilai tata kehidupan, nasihat, tuntunan untuk kebaikan, etika, adat istiadat, sindiran, atau pun keritik yang sifatnya membangun, umumnya disebut dengan peribahasa.
Masyarakat Banjar kaya akan peribahasa. Peribahasa yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Banjar ini adalah warisan turun temurun dari nenek moyang, dengan kata lain “ Adat Pusaka “ yang dipegang oleh orang – orang Banjar. Dan “ Pusaka Urang Bahari “ ini seyogyanyalah kita pertahankan sampai “ kamati “.
Kalau kita lihat dalam arus perkembangan zaman ini, yaitu era “ Globalisasi “, tentu sangat memperihatinkan. Sebab orang – orang Banjar sendiri telah melupakan Pusaka Urang Bahari. Masyarakat Banjar sudah meninggalkan atau tidak pernah tahu lagi khasanah Peribahasa Banjar dalam kehidupan sehari – hari.
Yang lebih memperihatinkan lagi adalah pada pihak generasi muda Banjar yang sangat tidak mengenal lagi Peribahasa Banjar. Ini disebabkan Peribahasa Banjar tidak pernah lagi diperkenalkan pada mereka baik di sekolah maupun dalam ruang lingkup komunikasi dalam keluarga. Di sekolah, ada mata pelajaran “ muatan lokal “ namun tidak jelas tujuannya. Banyak penafsisan yang berbeda tentang muatan lokal itu. Yang jelas tidak ada kejelasan “ silabus “ muatan lokal yang dimaksud. Ada beberapa guru yang akan mengajarkan Bahasa Banjar, tapi kesulitan mendapatkan literatur atau bahan rujukan tentang Bahasa Banjar. Disamping itu pula pengajarnya bukan dari etnis Banjar.
Dan eronisnya, seringkali diadakan berupa simposiom, seminar atau diskusi-diskusi tentang Bahasa Banjar khususnya Seminar Peribahasa dan Ungkapan Tradisional Bahasa Banjar, namun tampaknya hasil keputusan tersebut sekedar di atas kertas..